Kematian tragis, Hj Siti Purweni (79), ibu mertua mantan Kapolda Sumatera Utara periode 1990-1992, Irjen Pol (Purn) dr Hadiman SH, yang tewas dibunuh dua perampok belagak anak kost, di Jalan Dr Mansyur No 168, Medan, menimbulkan duka tersendiri bagi jajaran Polda Sumut. Dua hari sejak kejadian, pelaku yang diperkirakan dua orang masih diburon.Menurut Aspan, pihaknya telah mengetahui identitas pelaku. Karena itu, Aspan meminta pelaku untuk menyerahkan diri dan jangan melawan. “Kalau tidak segera menyerahkan diri, kami akan bertindak tegas. Kalian sudah tahu sendirilah itu. Selain tergolong keji pembunuhan merupakan kejahatan yang harus mendapat hukuman berat,” tegasnya.
Dilanjutkan Aspan, pihaknya menilai persitiwa pembunuhan itu terjadi karena kurangnya pengawasan dari masyarakat sekitar terhadap lingkungannya. Tapi menurutnya, begitulah cirri masyarakat perkotaan. “Masyarakat kota cenderung sendiri-sendiri. Saya kira Polmas dan Siskamling di kawasan tersebut tidak jalan,” kesalnya Aspan.
Sementara Zul Dalimunthe, tetangga sebelah rumah menyatakan korban dan keluarganya tergolong jarang bergaul dengan warga sekitar. Mungkin karena kondisi usia korban yang menyebabkan hal itu. “Kalau kesan selam hidup saya tidak bisa gambarkan. Biasanya ibu itu (korban), keluar di sekitar rumah saja. Kegiatan almarhum sering saya lihat merawat halaman dan taman depan rumah,” kata pengusaha toko ponsel ini.
Mengenai penghuni kos-kos, setahu Zul penghuni kos berjumlah lima orang dan semuanya sudah bekerja. “Jadi penghuni kos itu tidak ada yang mahasiswa semuanya pekerja, ada yang di Telkom ada juga yang tukang foto (fotografer),” ujarnya. Mengenai kejadian pembunuhan disertai perampokan itu, Zul mengaku tidak tahu menahu. “Setahu saya sudah ramai saja polisi,” tukasnya. Dalam kejadian itu, selain Hj Siti Purweni salah satu anaknya Rini Cahyani Purwanti (51) mengalami shock. Karena dirinya sempat dianiaya dan disekap dengan lak ban oleh pelaku.
Aspan Naiggolan menambahkan, dugaan kuat pembunuhan ini bermotifkan perampokan karena sejumlah kartu ATM milik Rini dan jutaan rupiah uang hilang berikut dompet korban.
Menurut Aspan, sesuai keterangan sejumlah saksi yang diperiksa petugas Poltabes Medan, kedua pelaku merampok dengan berpura-pura mencari kamar kos menyusul ditemukannya secari kwitansi pembayaran kamar kost.
Diketahui sebelum kejadian, kedua pelaku datang untuk menanyakan kamar kos. Kemudian dipersilahkan masuk dan dihidangkan minuman. Didukung situasi sepi kedua perampok beraksi. Para korban terlebih dahulu di cekik lalu digiring ke dalam kamar masing-masing. Lalu, Siti Purweni dibunuh sedangkan putrinya di sekap didalam kamar dengan kondisi kedua tangan diikat dan mulut disumbat.
Telepon Misterius
Menurut sumber di lapangan, kronologis kejadian itu diduga berawal dari Jumat (1/2) malam. Saat itu melalui telepon rumah, seseorang menelepon dan menanyakan kos. Karena sudah malam, Rini yang menjawab telepon menyankan agar besok saja.
Kemudian, Sabtu (2/2) sekira Pkl.23.00 WIB datang lagi telepon menanyakan masalah kos dan penelepon mengaku sedang berada di depan rumah korban. Tapi, Rini kembali menjawab besok saja berhubung sudah larut malam.
Kemudian, Senin (4/2) sekira Pkl.20.30 wib, datang dua pria, seorang tinggi tegap berperawakan hitam pakai topi biru dan seorang lagi agak pendek hitam berambut gondrong mengenakan helm dengan logat melayu datang dan mengetok pintu lalu dibuka Rini dan kedua pelaku dipersilahkan masuk ke ruangan tengah.
Merekapun berbicara dengan Hj Siti Purweni membicarakan biaya kost. Saat yang sama, seorang tersangka batuk-batuk lalu Rini mengambil minum ke dapur. Begitu Rini mempersilahkan ‘tamunya’ minum, pelaku lalu mendekap Siti Purweni sekaligus mencekik lehernya sedangkan Rini diseret ke kamar. Merekapun disekap hingga akhirnya Hj Siti Purweni tewas.
Terkait peristiwa itu, polisi sudah mengindetifikasi anak-anak yang kost dirumah korban yaitu Romi (24) kerja di Telkom, Rudi (33), fotografer freelance, Mario (26) bekerja di Telkom, Edu (33) karyawan PTPN tinggal selama 7 tahun namun saat ini berada di Jakarta, Hanung (30) pegawai PLN saat ini di Bali dan sudah lima tahun kost. Kemudian, Adang, siswa SMU telah satu tahun kost, Putut Tris (27) karyawan Farmasi. Menurut sumber semua anak kos yang diperiksa petugas mengaku tidak melihat kejadian.
Februari 8, 2008 pukul 1:35 pm
fotonya keren, tulisan mentereng…tapi fotonya itu loh