Ratusan massa dari tiga elemen organisasi menggelar unjukrasa di depan Taman Makam Pahlawan Medan, Sabtu (23/2). Secara tegas massa menentang pers Eropa yang memuat (lagi) gambar kartun Nabi Muhammad SAW. Aksi ini digawangi tiga organisasi yakni Hizbut TahrirIndonesia (HTI), Front Pembela Islam (FPI) dan Madinah Syariah.

Dalam orasinya, Humas HTI Sumut Musdar Syahban mengungkapkan, pihaknya sangat mengutuk pemuatan gambar Nabi Muhammad oleh media di Swedia, Denmark, Spanyol dan Belanda. Tindakan tersebut menurutnya telah melecehkan umat Islam di dunia.

“Tindakan dunia barat itu merupakan unsur kesengajaan. Padahal sudah jelas umat muslim sepakat untuk tidak menggambar Nabi Muhammad, terlebih dilecehkan. Mereka ingin memancing kemarahan kaum muslim,” ujarnya.

Kasus penghinaan Nabi bukanlah yang pertama ini terjadi. Berdasarkan catatan HTI, setidaknya ada 7 kasus lain yang pernah melecehkan nabi. Bahkan pada 2004, sebuah film di Belanda Theo van Gogh secara gamblang menghina Islam dan Nabi Muhammad.

Sedangkan Ketua Panitia Ibnu Hayat menegaskan, pihaknya menuntut pelaku pemuatan gambar tersebut dihukum mati. Karena menurut syariah Islam, setiap yang menghina Rasulullah saw harus dijatuhi hukuman mati. Hayat juga menyerukaan seluruh umat islam bersungguh-sungguh berjuang menegakkan khilafah islam. Selain itu, sedari dini umat Islam harus mewaspadai upaya kaum kafir yang ingin menghancurkan Islam.*

**
foto: http://www.media-indonesia.com/data/aktual/132800.jpg

Satu Tanggapan ke “Massa di Medan Kecam Dunia Barat”

  1. Khairun Abubaker Berkata

    FPI = Oknum-oknum polisi yang membela Islam

    Organisasi-organisasi muslim yang bringas didukung oleh oknum-oknum kepolisian & aparat keamanan pemerintah.

    Sudah sering terjadi pengerusakan rumah-rumah ibadah umat lain, sweeping, fatwa-fatwa dan kekerasan lainnya yang dilakukan oleh organisasi muslim terhadap umat agama lain. Sedangkan sebagian dari para preman ini adalah anggota polisi dan aparat keamanan lainnya yang berpakaian sipil. Pemerintah juga bersikap seolah-oleh memberi semangat kepada preman-preman ini sehingga mereka merasa berada di atas hukum apapun yang berlaku di negara Indonesia.

    Juga anggota polisi pada umumnya hanya menonton para preman yang melakukan pengerusakan & sweeping. Anggota polisi malah melindungi oknum-oknum yang berkelakuan bringas itu.

    Sedangkan polisi dan aparat keamanan pemerintah seharusnya melindungi seluruh lapisan masyarakat tanpa membeda-bedakan agama, kepercayaan, suku, dsb.

    Kita yakin bahwa ada umat muslim yang tidak mentolerir dan tidak setuju dengan kelakuan polisi dan aparat keamanan yang secara terang-terangan memihak kepada golongan mayoritas.

    Tetapi, pemerintah tidak menyadari bahwa walaupun polisi dan aparat keamanan mempunyai senjata api, rakyat jelata (masyarakat muslim yang kurang simpati terhadap polisi) mumpunyai senjata yang jauh lebih ampuh dari pada senjata api. Sejata yang ampuh ini adalah agama.

    Masyarakat muslim yang tidak simpati terhadap tindakan polisi yang memihak ini bisa mengeluarkan reaksi yaitu mereka bisa meninggalkan agama Islam. Mereka bisa mengalih ke agama lain. Kalau hal ini terjadi/sedang terjadi, maka senjadi api polisi itu tidak ada artinya.


Tinggalkan Balasan