Kantor DPD PKS yang berada di Jalan Katapang, Desa Pangauban, Kecamatan Katapang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dilempar bom molotov Senin (14/4) siang. Satu orang dari pelempar tersebut telah ditangkap. Tapi katanya, pelaku melempar bom itu atas inisiatif sendiri tanpa suruhan. Ini cukup menggelikan bagi saya. Entah bagaimana dengan Anda?


 Usai pemeriksaan Kapolres Bandung AKBP Ahmad Dofiri mengatakan, yang menjadi tersangka pemboman di DPD PKS Kabupaten Bandung saat pemeriksaan mengaku melakukan aksi tersebut atas inisiatif sendiri. Dia menjelaskan, inisiatif tersebut didapatkan saat berjalan-jalan dengan kedua temannya.
 Di tengah jalan, tersangka kecewa atas Pilgub Jabar. Kemudian, tersangka dan temannya menuju kantor DPD PKS Jabar dan melaksanakan aksinya, melempar ‘botol berisi bensin’ yang disulut api. Pelemparan tersebut sebagai ungkapan kemarahan atas hasil pilgub. Tersangka juga mengaku tidak ada yang menyuruh. Benarkah? 
 Kalau boleh saya menjudge (macam hakim aja ah..), aksi pelemparan ini pasti ada yang menyuruh, terlepas dari aktornya KAWAKAN atau AMATIRAN. Sebab secara manusiawi, tidak akan ada masyarakat ‘awam’ yang ingin melakukan itu (merusak punya orang) tanpa suruhan.
 Kalau dibilang si pelaku kecewa dengan hasil Pilgub Jabar, ada jutaan orang Jabar yang lain juga kecewa karena pasangan yang didukungnya kalah. Lalu, memangnya si pelaku yang disebut bernama Endang itu siapa? Apa cuma dia yang kecewa. Lalu apakah kecewa dibenarkan melakukan hal seperti itu? Betul tidak?
 Sebagai orang yang pernah dekat dengan dunia polisi saya memahami pernyataan Bapak Kapolres Bandung. Karena itulah kerja polisi, menciptakan kesejukan dan melindungi masyarakat. Dalam situasi seperti ini (Pilkada), yang rentan gangguan Kamtibmas, polisi berupaya meminimalisirnya. Termasuk juga menganut eufimisme (memperhalus bahasa), agar kesejukan suasana tetap terjaga. Betul tidak?
 Saya tertarik menukilkan ini sebab daerah tempat saya berdomisili (Sumut), akan melaksanakan Pilkada Gubernur juga, Rabu, 16 April 2008. Lalu apa hubungannya? Ya, tentu saja hal serupa bisa terjadi di Sumut? Kalau memang itu terjadi, bisa lebih parah dari Jabar yang katanya memiliki masyarakat homogen, betul tidak…?
 Karena, Pilkada Gubsu dimeriahkan oleh 5 Pasangan Calon (Jabar Hanya 3 Pasang). Selain itu, sifat politik di Sumut cenderung (lebih sering) intimidatif atau sejenisnya. Kalau pun ada yang bilang ‘kita harus lapang dada atau harus siap menang dan kalah’, ada saja cara untuk mengungkapkan kekecewaan. Ya… salah satunya dengan main ‘lempar botol berisi bensin dengan sumbu yang disulut api’ itu, betul tidak?
 

 

Satu Tanggapan ke “Pemboman PKS Jabar Inisiatif Sendiri?”

  1. adeputrawinata Berkata

    ass salam kenal,,, kemenangan HADE merupakan tonggak dari supremansi hukum dalam menindak para koruptor,, silahkan baca posting saya HADE menang, Danny masuk Bui silahkan klik Disini


Tinggalkan Balasan