Balita, Orangmati dan Golput di Pilkada Sumut
April 16, 2008
Setelah unggul dalam hitung cepat oleh tiga lembaga independen, pasangan No 5 yang diusung PKS, PPP, Partai Patriot, PBB dan tujuh partai lain bisa dipastikan keluar sebagai pemenang dan akan memimpin Sumut 5 tahun mendatang. Tapi saya tidak ingin bercerita tentang kemenangan Bang Syamsul-Mas Gatot di Pilkada ini. Tetapi lebih pada kata balita, orangmati dan golongan putih yang menurut saya, tiga kata itu memiliki keterhubungan di Pilkada Gubsu 2008.
Sebabnya, di lingkungan saya (ternyata di beberapa tempat yang saya cek, sama terjadi), balita dan orangmati mendapat kartu pemilih sebagai syarat untuk mencoblos. Sementara disaat yang sama, ada ratusan orang cukup umur dan masih hidup yang tidak boleh mencoblos, karena tak punya kartu pemilih.
Alhasil, TPS di tempat saya mencoblos, kawasan Deliserdang banyak surat suara yang tak terpakai (dari 300 nama pemilih yang menggunakan haknya hanya 128). Hal ini wajar saja, karena bagaimana mungkin balita dan orang mati datang ke TPS? Mungkin di tempat ada juga?
Lalu apa kaitannya dengan Golput alias golongan putih. Tentu saja, orang-orang awam seperti saya dan mungkin ada jutaan masyarakat Sumut yang lain beranggapan tingkat Golput di Pilkada Sumut tinggi. Karena banyak yang tidak datang ke TPS untuk menggunakan hak pilihnya, betul tidak? Tapi ya sekali lagi, bagaimana caranya balita dan orang mati datang ke TPS?
Saya yakin ada pihak terkait yang bisa menjawab hal ini (bukan petugas KPPS ya, mereka hanya pelaksana proses yang lebih sering kena ‘getahnya’ di lapangan). Bisa Dinas Kependudukan atau KPU selaku ‘Ketua Panitia’. Kenapa balita dan orangmati bisa dapat kartu pemilih sedangkan orang yang cukup umur untuk mencoblos tidak dapat kartu.
Saya yakin, jika kita komplain ke KPU maka KPU akan bilang data itu dari Dinas Kependudukan (buang badan hal wajar di kita). Kalau kita tanya ke Dinas Kependudukan, jawabannya pasti standar PNS, “memang begitu data yang ada, pak…” ujar si PNS.
Saya harap ini bukan akal-akalan pihak tertentu. Saya juga tidak ingin men-judge bahwa ada pihak tertentu yang ingin Pilkada ini dilakukan dengan DUA PUTARAN. Saya cuma bisa berharap, tidak ada PUTARAN KEDUA. Semua yang telah kami (masyarakat) lewati menuju Pilkada ini sudah cukup melelahkan dan membingungkan. Jadi jangan ditambah lagi ya Bang Ir….
Selain itu dalam kesempatan ini saya mengucapkan selamat pada para calon yang telah bersaing dengan penuh damai dan ketentraman di Sumut. Kepada Tri’Babe’tamtomo-Benny Pasaribu, Bang Syamsul-Mas Gatot, Abah Wahab-Romo, RE-Suherdi dan Ust Maratua-……… semoga bisa bersinergi memajukan Sumut di masa datang. Selain itu, angka Golput pasti tinggi di Pilkada Sumut. Karena itu tadi, bagaimana caranya balita dan orang mati datang ke TPS, tanya kenapa? (roziaja)
****
logo:http://osolihin.files.wordpress.com/2007/10/logo-voi.jpg
April 19, 2008 pukul 2:09 pm
balita dan orang mati ke TPS? ya gampang la, zi…mamak-nya yang bawa.
tulisan ko dah maken bagus aja…terus, terus, terus, mau lagi…