Medan Islamic Centre Gagal Lagi
Desember 16, 2008
Medan Islamic Centre senilai Rp92 miliar batal dibangun. Ini kegagalan tahun kedua setelah dianggarkan dalam APBD. Dalam APBD 2008, Islamic Centre mengikuti program drainase kecamatan Rp8 miliar dan relokasi ternak kaki empat Rp5,6 miliar, sebagai program gagal 2008.
Penjabat Wali Kota Medan Afifuddin Lubis mengatakan program ini tidak berjalan lantaran pihaknya mencoba mendisiplinkan penggunaan anggaran. Mulai hari ini, penggunaan dana dari APBD 2008 berupa surat perintah membayarkan uang (SPMU) tidak lagi dibenarkan.
”Ada tahapan-tahapan sebelum program dilaksanakan. Jadi kalau tidak bisa,ya tidak dijalankan,” tandasnya seusai membuka pameran tanaman hias di Taman Ahmad Yani Medan kemarin.
Afifuddin pun menjelaskan, Departemen Dalam Negeri (Depdagri) telah memberi petunjuk agar proyek pembangunan Medan Islamic Centre yang sudah dianggarkan selama dua tahun berturut- turut tidak dijalankan dulu. Pertimbangan utamanya apakah itu menyangkut kepentingan umum atau tidak.
”Karena ada keraguan,tahun 2007 tidak dijalankan dan dimasukkanlagike 2008.Namun karena ada petunjuk Depdagri, program itu belum bisa direalisasikan.KataDepdagri, menunggu harmonisasi peraturan yang ada,” bebernya.
Apakah akan dimasukkan lagi dalam APBD 2009 atau tidak, pihaknya pun masih membutuhkan pertimbangan lebih lanjut. ”Nanti saja setelah masuk ke DPRD, kami bahas. Apalagi untuk pembangunan Medan Islamic Centre itu Rp60 miliar adalah bantuan pemerintah provinsi,” kata Afifuddin.
Di lain pihak, anggota Panitia Anggaran DPRD Medan Abdul Rahim Siregar cukup menyayangkan program tersebut tidak berjalan. Menurutnya, selain Medan Islamic Centre,ada juga program lain yang tidak berjalan ataupun hanya sebagian terealisasi. ”Seperti program pelayanan satu atap senilai Rp2 miliar pun tak jelas kabarnya.
Kemudian,pembangunan RS Pirngadi dan program Medan Sehat yang masing-masing senilai Rp27 miliar dan Rp10 miliar hanya sebagian terlaksana. Hendaknya ini menjadi pelajaran bagi Pemko Medan agar anggaran yang dibuat tidak sia-sia,” ujarnya.
Anggota panitia anggaran lainnya, Hendra DS, menyatakan program Medan Islamic Centre itu sudah disetujui oleh Dewan tak semestinya tidak berjalan.
Menurutnya, ide pembangunan Islamic Centre itu muncul dari wali kota nonaktif, Abdillah. ”Saya pikir itu terhambat karena kasus hukum yang mendera Abdillah .Tapi kalau alasan lain, itu patut dipertanyakan juga,” katanya.
Hendra berpendapat kegagalan program itu karena SKPD yang bertanggungjawab takut menggunakan anggaran karena trauma. Harusnya semua anggaran yang sudah disahkan sebaiknya dijalankan. ”Seperti pembangunan Islamic Centre adalah salah satu kepentingan umum. Apalagi rencana pembangunan di Medan Utara yang memang menjadi prioritas rencana pembangunan Medan. Saya meminta pembangunan Islamic Centre itu harus dikerjakan 2009, untuk pengembangan kawasan Medan Utara,” tandas politikus asal Partai Patriot ini.(edt*)
Mei 3, 2009 pukul 5:35 am
Kenapa bisa gagal pembangunan Islam centre. Padahal itu amat berguna.
oleh:
penulis buku:
40 Hari Di Tanah Suci.
Juni 24, 2009 pukul 6:28 pm
MEDAN ISLAMIC CENTRE, Gagah nama itu. Kira-kira Islam bagian mana yang akan dicentre-kan itu. Kalau yang dimaksud cuma gedung, ya berhentilah berencana ke arah itu. Sudah ada Mesjid Agung, ada Mesjid Raya, dan di bagian-bagian yang jamak di Medan ini berlomba-lomba bangun mesjid dengan (antara lain) “ngompas” di pinggir jalan. Tetapi setelah bangunan mesjid rampung malah jamaah tak cukup.Padahal mesjid itu pusat ibadah dan pusat kebudayaan, yang artinya centre juga, bukan?
Di beberapa negara maju memang ada islmic centre, dan itulah asal-muasal imitasi itu ke Indonesia. Mereka di sana tak punya mesjid seperti kita. Jadi Islamic centre itu bisa juga menjadi bahasa lain untuk makna mesjid.
Saya ada contoh islamic centre yang dibangun organisasi tertentu atas bantuan negara asing. Konsepnya tak sesuai dengan keadaan lokal, akhirnya ya jadi bangunan buruk ditinggal.
Saya juga pernah lihat ada merek Islamic Centre di sekitar daerah Jalan pancing. Centre yang dipinggir.
Maksud saya, revisi lagi cara berfikirnya. Islamic Centre bukan bangunan, tetapi ruh yang —memang perlu— mendapat fasilitasi dari instrumen seperti gedung, manpower, dan lain-lain.
Tanpa ruh, islamic centre malah bisa ajang kebanggaan kosong atau malah ajang korupsi (proses pembangunan dan operasionalisasinya).
Mohon maaf kepada para penggagas. Terimakasih.